![]() |
| Debu batubara |
Iya sudah beberapa bulan kebelakang aktifitas batu bara mulai kembali terjadi, hal ini membuat warga sekitar Way Lunik termasuk saya juga ikut merasakan dampaknya.
Padahal sekitar delapan-sepuluh tahun yang lalu sempat ada demo dan protes dari warga sekitar area batubara dan akhirnya sempat berhenti walau hanya sesaat. Saat itu beberapa warga berkumpul dan sempat melapor ke WALHI / lingkungan hidup untuk minta solusi, namun gak ada titik terang di kedua belah pihak, bahkan saya sendiri sempat sebal karena akhirnya rumah sayapun mengalami dampak batubara.
![]() |
| propilan tiang, debu & hitam |
Teras rumah saya berdebu dan berwarna hitam, area jendela, lantai teras dan tower penampung air di atas loteng rumah hitam dan berdebu, warga sempat bulak balik melapor dan protes pada perusahaan batubara namun gak pernah di gubris, alasannya El Nino lah..El Nani ...lah, mosok yang di salahin anginnya..bisa apa rakyat kecil, di denger juga enggak keluhannya, kalo enggak ada udang di balik rempeyek, makanya perusahaan batu bara ini tetap bebas beroperasi, wong ngantongin izin, para pengusaha enggak mau rugi donk udah keluar modal banyak, mosok harus kalah dengan segelintir orang saja.
Padahal batubara ini berada di lokasi pemukiman warga, yang seharusnya enggak boleh, herannya koq pemkot atau pemda seakan enggak tau atau tutup kuping...saya sebagai orang awam enggak ngerti soal perizinan dan siapa yang berwenang memberi izin dan sebagainya, sebagai rakyat kecil dan warga sekitar, kami hanya merasa di rugikan dengan dampak yang di timbulkan oleh perusahaan batu bara ini, udah itu tok.
Soal sakit batuk, pilek atau ISPA udah dianggep keluhan sakit biasa walau beberapa warga yang terdampak sudah melaporkan, tapi ya gitulah, hanya di anggap sebagai angin lalu, hukum rimba tetap berlaku ...di mana ada duit, di situ ada kekuasaan, yang gak punya duit.. mendingan diem aja.
Saya enggak menyebut nama perusahaan atau PT apa yang sudah menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan di sekitar, ada beberapa warung makan yang juga terkena dampaknya, hotel, sekolah, rumah warga dan lainnya, tapi yang lain cuek dan gak peduli, karena perusahaan sepertinya menutup mulut sebagian warga dengan memberikan sembako dan bantuan keuangan, sebagian lagi protes dan gak mau menerima, dengan alasan perusahaan sudah memberi bantuan, memberi lapangan kerja buat warga sekitar dan memberi pemasukan buat daerah ini ??
Padahal dampak yang di timbulkan enggak main-main loh, lingkungan perusahaan batubara ini lokasinya memang dekat banget dengan laut, karena laut adalah sarana angkut kapal tongkang untuk mengangkut batubara, nah beberapa nelayan juga mengeluhkan karena mereka kesulitan untuk mencari ikan karena cemaran batubara tersebut, beberapa kapal tongkang batubara bulak balik bergantian hilir mudik mengangkut batubara begitu pula dengan beberapa mobil truk yang beroperasi untuk mengangkut batu bara di daratan.
Sebagai warga biasa saya hanya kepingin lingkungan bisa balik normal kayak dulu lagi, bisa menghirup udara bersih, kalau sekarang setiap pagi saat buka jendela yang di hirup adalah bau sangit batu bara, yang terbang terbawa angin, tak kasat mata tapi membawa petaka, cepat atau lambat bakalan berdampak bagi kesehatan dan keberlangsungan hidup warga sekitarnya.
Lantas kepada siapa lagi kami mengadu ? Kita kayak bola pingpong di lempar kesana kesini dan mereka terkesan cuek atau pura-pura budeg. Kalau selama ini ocehan kami gak pernah di dengar ..apa kami harus diam dan tutup mulut lalu pasrah saja menerima rasa gak nyaman ini, terus sampai kapan ? Sampai menunggu ada korban dulu baru kalian bergeming ?
Orang-orang yang ngakunya pinter di luar sana, kalian pada ngumpet di mana, kami bosan melapor ...karena gak pernah di tanggapi, kami bosan ribut, kami juga takut kalau-kalau ada yang gak suka dengan protes kami, dan melaporkan, siapalah kami...warga biasa yang cuma kepingin menghirup udara segar kayak dulu lagi..mereka yang berbuat, koq kami yang menanggung akibat, maafkan ya kalau saya lagi curhat:D.
Salam✌️.

