 |
| Pink Beach |
Mreneyoo.com. Kalau ada yang mungkin bertanya kok jalan-jalannya selama di Lombok kenapa hanya pantai dan bukit saja, karena memang Lombok sendiri banyak pantai-pantai cantik dan bukit yang indah guys, kebanyakan wisata di sini menyajikan panorama alam dan budaya, hampir mirip dengan Bali, yang juga banyak menyajikan wisata alam dan budayanya.
Pagi itu setelah sarapan sejenak di hotel, pukul 09.00 kami memutuskan untuk keluar menuju salah satu pantai cantik lagi, hari itu ada tiga pantai yang kami datangi, pantai pertama berupa pulau kecil, di sana ada satu pantai cantik bernama pink beach.
Kami menaiki perahu nelayan dengan didampingi oleh mas Ginang driver dari travelnya, selalu dia membawa cemilan dan minuman buat kami, makasih yaa 🙏 atas pelayanan yang baik ini.
Saat berada di tengah laut, banyak terdapat bola-bola di atas permukaan air laut, nelayan menjelaskan kalau bola-bola yang jumlahnya sangat banyak itu adalah penangkaran budi daya mutiara laut, seperti pada postingan saya sebelumnya di SINI.
🌸 Lombok Part Satu
🌸 Lombok Part Dua
Lantas perahu di tambatkan oleh pak nelayan dan kami menuruni perahu walaupun dengan sedikit berbasah-basah ria, ya namanya turun ke air pastilah basah hehehe.
Pantai cantik yang pertama kami singgahi adalah pink beach, berupa pulau kecil yang sangat indah, masih alami banget, air lautnya biru terang dan pasirnya halus banget berwarna pink muda, suasana di pulau kecil sangat sepi, saat itu hanya ada dua tiga perahu yang datang ke pantai cantik ini, kami berasa berpetualang ke pulau cantik yang masih terjaga ke keindahannya, gak ada sedikitpun sampah, hanya hamparan pasir pink dan deburan ombak, walaupun siang cuaca cukup panas tapi kami merasa betah di sini.
 |
| Pink Beach |
 |
Pink Beach
Perjalanan menggunakan perahu lanjut ke tempat tambak lobster di tengah laut, kami turun sejenak menuju tempat budi daya lobster, dan membeli sedikit lobster, ukuran sedang dan harga juga enggak terlalu mahal, sekitar tiga ratus ribu dapat lima buah lobster, tapi kalau di ekspor pasti harganya sangat mahal.
Setelah membeli beberapa lobster, nelayan melanjutkan perjalanan lagi menuju wisata pantai lainnya, kalau di sini lumayan ramai, karena memang menjadi destinasi wisata laut pada umumnya, pas tiba waktunya makan siang, rupanya pak nelayan yang membawa kami memasak segala menu makan siang kami siang itu, alhamdullilah semua tersedia lengkap, kami tinggal terima beres, karena semua sudah di sajikan fresh di atas meja makan, ada ikan bakar, cumi tepung, udang tepung, dan sudah pasti lobster bakar yang kami beli tadi dan kepiting kuah gulai, tak lupa cocolan sambal kecap nya dan tumis jagung manis 🤤👍.
|
Sekitar dua jam kami ada di sini dan saat itu hari sudah agak sore, walau cuacanya masih terang benderang, kami bersama pak nelayan melanjutkan perjalanan naik perahu menuju pantai terakhir sore itu, namanya pantai pasir.
Jika menuju ke pantai pasir ini memang harus agak menjelang sore sekitar jam empat gitu, karena saat itu momen yang pas ketika air laut mulai surut, maka di tengah-tengah air laut tersebut akan timbul hamparan pasir, jadi pasir nya di apit air laut kiri dan kanan, indah banget..agak aneh aja fenomena kayak gitu, kalau berangkat siang atau lebih gelap lagi gak bakalan ketemu pemandangan pasir yang menyembul di tengah-tengah laut, gitu kata pak nelayannya, oiya yang ambilin foto kami tuh bapak " nelayannya looh, ok juga ya hasilnya 😀, mungkin karena udah sering bawa pengunjung ke sini jadi terbiasa ambil foto.
 |
| pegang Patrick si bintang laut |
 |
| Pantai pasir |
 |
| Kiri kanan air laut, tengah nya pasir |
Hari bertambah sore, kami memutuskan untuk segera pulang, syukurnya keputusan untuk menyudahi kunjungan ke laut hari itu tepat, karena gak lama masuk mobil ternyata hujan turun dengan sangat derasnya.. alhamdullilah gak keujanan, gak kebayang di tengah pulau hujan deras, dan takutnya ombak laut gak bersahabat jadi gak bisa pulang deh.
Menjelang magrib kami sampai di hotel, setelah mandi bersih-bersih dan solat magrib, mas Ginang menjemput kami ke hotel untuk makan malam, salah satu tempat makan sederhana berupa makanan khas Lombok, namanya sate rembiga ibu Napisah, terbuat dari potongan daging sapi yang lumayan besar potongannya, satu porsi ada sepuluh tusuk sate berikut sepiring nasinya.
Model satenya gak berkuah kacang ataupun kecap, tapi rasa satenya manis dan gurih ada rasa sedikit pedas lada, bumbunya meresap kedalam potongan daging satenya, dan empuk tekture nya, pastinya bumbu sudah sangat meresap kedalam potongan dagingnya, karena setiap gigitan sate terasa banget rasanya, pokoknya sesuai dengan selera di lidah, sayangnya ada satu dua foto yang tak sempat ke update, keburu ke hapus 🙄.
Berhubung perut sudah kenyang dan bawaanya ngantuk, malam itu mas Ginang mengajak kami untuk mengelilingi kota Mataram pada malam hari, Mataram adalah ibukota Lombok.
Melihat kota Mataram malam hari seolah mengingatkan saya pada cerita sejarah tentang kerajaan Mataram pada masa lampau, padahal saya enggak tau banyak sejarah nya, hanya saya dapatkan waktu pelajaran sekolah jaman dulu, suasana kota relatif tenang gak berisik walau kendaraan lalu lalang, karena mungkin ini bukan lah kota besar pada umumnya, jadi relatif tenang dan jauh dari macet.
Ada beberapa tempat yang kami lewati untuk bersantai di malam hari, terdapat deretan tempat makan dan kafe-kafe yang berjejer dan di sekitar nya banyak pohon rindang dan lampu jalan malam hari menambah keindahan suasana kota Mataram.
Hari semakin larut, saat itu waktu menunjukkan hampir jam 22.00 malam, mata tambah ngantuk, perut sudah kenyang, waktunya buat balik lagi ke hotel untuk segera beristirahat, masih ada sisa waktu sehari di kota Lombok, kemana lagi ya hari terakhir tujuan kami selanjutnya ?
Salam