Mlipir dan Muter-muter Sejenak di Kota Solo,


Mreneyoo.com. Setelah malang melintang, akhirnya jalan-jalan ke kota Solo dan Malang kesampean juga walaupun cuman sebentar, mayanlah, tapi kali ini mah enggak kuatir, soalnya stok foto lumayan banyak, sangking banyaknya itu memori HP udah kepenuhan dan rada nge-lag😁, btw kali ini khusus postingan ke kota Solo dulu yak. 

Rabu malam pukul 21 WIB, kereta api Argo Lawu berangkat dari stasiun Gambir yang membelah malam yang masih ramai, kami rombongan yang berjumlah delapan orang seperti biasanya sudah duduk manis di tempat duduk masing-masing, perjalanan yang cukup lama dan jauh, tujuh jam menuju kota Solo. 

Solo sebetulnya hanya kota persinggahan, tujuan utama sebenarnya menuju kota Malang, berhubung jadwal kereta apinya enggak pas dengan jadwal kepulangan kerja mbak ku, akhirnya kami menggunakan kereta Argo Lawu yang menuju Solo. 

Tapi walau hanya sebagai kota persinggahan, ada beberapa tempat yang sempat kami datangi, sayangkan udah jauh-jauh naik kereta kalo enggak menjelajahi kota Solo, sekali berdayung dua tiga tempat di jabani walau hari itu kota Solo cukup panas nyelekit πŸ˜“

Kamis subuh pukul empat dinihari, mobil travel yang sudah kami sewa selama perjalanan akhirnya menjemput kami di stasiun Solo Balapan dan segera bergegas menuju hotel, sampai di hotal aku enggak sempet mandi, udah kelewat ngantuk berat dan aku bukan tipe pelor, alias nempel dikit langsung molor, di kereta walau cuma duduk aja tapi enggak bisa tidur, aku tuh baru bisa istirahat kalo badan ngegelepak di kasur:D

Pukul delapan pagi sekalian cekout hotel, soalnya cuman numpang istirahat beberapa jam tok, kami segera meluncur mencari sarapan, perut lumayan laper dan tempat sarapan yang di tuju ternyata cukup ramai mengantri, dengan banyak kesabaran akhirnya rombongan kami dapat tempat duduk dan memesan soto daging yang merupakan menu andalan di warung soto triwindu hj.Yoso Sumarto, Keprabon Banjarsari yang cukup legendaris ini, udah ada sejak tahun 1939.




sabar ngantri


Soto yang di tunggu sedari tadi akhirnya sampe juga ke meja kami, soto daging sapinya kalo di sini sudah di campur nasi, jadi kayaknya enggak pake kupat atau lontong, lazimnya soto yang ada di daerah Jawa. 




Berkuah bening namun rasanya segar dan terasa kaldunya tapi bukan yang bikin eneq, isi daging irisnya cukup banyak, aku campur kuahnya pake perasan jeruk dan sedikit sambal semakin membuat rasa soto daging ini tambah nampol, kurang nya dikit aja, karena potongan dagingnya sedikit alot, jadi perlu sedikit kesabaran buat mencabik-cabik dagingnya, di kira si meng, apa gigi ku aja yang udah mulai kehilangan ketajaman dan capek ngunyahnya πŸ˜† wkwkk.

Secara keseluruhan soto daging ini cukup maknyus, ada tambahan teman makan sotonya, ada tempe mendoan, tahu goreng, kerupuk, sate telur puyuh plus jeroan ayam goreng sebagai pendamping, minumnya di temani segelas teh hangat dan jeruk hangat dalam suasana pagi hari terasa nikmat. 

Puas menikmati semangkok soto daging, kamipun melanjutkan persinggahan sejenak ke pasar triwindu yang merupakan pasar barang antik, walaupun enggak ada satupun barang yang di beli, menikmati beragam barang antik yang di pajang cukup mengingatkan nostalgia, ada cukup banyak pajangan yang mengingatkan ku pada masa kecil, lampu patromak, lampu sentir, radio tape jadul, kamera jadul dan masih banyak benda-benda jadul lainnya yang cukup berharga. 





Karena enggak lama di pasar antik ini, kami memutuskan untuk singgah ke salah satu sentra batik Laweyan, di sini adalah kampung khusus tempat penjualan aneka batik. 



Kami memasuki salah satu kafe sekaligus tempat menjual batiknya, di bagian belakang kafe ada dua orang pekerja yang sudah cukup sepuh sedang membatik kain. 



Di sini pengunjung bisa membuat kain batik sendiri dengan ukuran kecil sebagai cindera mata, proses pembuatan batik tulis ini memakan waktu satu jam, mulai dari proses pewarnaan motif kain menggunakan canting, pencelupan, penjemuran hingga proses akhir, sayangnya karena waktu kami enggak banyak, jadi cukup melihat dua orang ibu yang mengerjakan proses pembuatan batik tulis, aku sempat bertanya dan proses nya cukup lama memakan waktu satu bulan, maklum ya kalau harga batik tulis itu cukup mahal karena proses yang cukup rumit dan butuh ketelatenan. 



Aku juga sempet berfoto ala-ala, seolah sedang membatik, padahal mah ni tangan takut nyenggol si kain batik nya, bisa berabe kalo sampe tetesan lilin atau malam netes di kain πŸ˜†, si ibunya justru yang menawarkan diri. Batik-batik ini mempunyai ceritanya masing-masing, jadi nggak hanya sekedar menggambar dan mewarnai, setiap kain batik yang di hasilkan mempunyai motif dan ceritanya sendiri. 



Berhubung hari semakin siang dan perjalanan di Solo pun terbatas, kami segera melipir lagi kesalah satu tempat yang cukup bersejarah, salah satu gedung tua peninggalan jaman Belanda yang sekarang di fungsikan sebagai museum sekaligus tempat nongkrong kekinian.

Nama gedung ini adalah Rasamadu Heritage salah satu tempat wisata di Solo yang populer karena memadukan keindahan sejarah dengan nuansa modern yang elegan. Terletak di wilayah eks Pabrik Gula Gembongan, kawasan ini merupakan bukti keberhasilan revitalisasi kawasan industri lama menjadi ruang publik yang penuh estetika. 




Meski sempat di tutup, akhirnya tempat ini kembali di buka untuk umum dengan nama yang sekarang ini dan harga tiket kisaran mulai dari Rp 30.000  / orang, karena di sini ada beberapa pilihan paket yang bervariasi, jadi harganya beda lagi. 

Di dalam gedung ini kita bisa melihat sejarah pabrik gula pada jaman kolonial Belanda melalui foto-foto dan tulisan yang terpajang di dinding, dimana gula pada saat itu merupakan bahan makanan mahal yang hanya bisa di nikmati oleh orang-orang berduit pada masa itu. 

Foto-foto dibawah ini adalah foto ekspor gula dari Jawa dari tahun 1927-1933 ke beberapa negara seperti Singapore, China, Jepang, Europe dan lainnya, sumber Koningsberger 1948 dan Jawa adalah pengekspor gula terbesar ke 2 di dunia saat itu. Maap ya ini fotonya burem karena emang udah lama banget, masih foto hitam putih. 





Di dalam gedung terdapat beberapa pajangan mobil dan motor antik, keluar sedikit kita bisa menikmati indahnya permainan lampu-lampu yang berpendar aneka warna yang bisa di abadikan menjadi foto-foto cantik.




Sementara untuk area outdoor ada beberapa taman atau area berfoto dan kafe yang bisa di kunjungi kalau ingin sekedar icip-icip. 

Lanjut lagi mumpung masih ada di kota Solo, soalnya sedari tadi perut ini sudah mulai terasa kosong, terdengar nada-nada sumbang mulai bernyanyi di perut ku... kruek...krueek.



Nama tempat makan ini adalah Rumah Sinten, tempatnya strategis karena di pinggir jalan raya, bangunnya bernuansa kayu jadul dan terlihat cantik, kami memilih di outdoor  aja yang atapnya mirip rumah joglo khas Jawa, soalnya ada meja panjang yang bisa menampung jumlah kami yang sembilan orang ini termasuk mas sopirnya, berhubung udah siang kami langsung pesen menu masing-masing, saya pesen ayam goyeng bumbu ireng, sementara yang lain pesen bebek goreng. 


bebek sambel matah

ayam bumbu ireng

Saya tuh sebetulnya enggak terlalu cerewet soal makanan, yang penting mah ada pedesnya, kebetulan dapet sambel bawang, jadi pas banget perut laper makan ayam goreng bumbu ireng yang gurih di cocol pake sambel bawangnya yang cukup pedas membuat telinga berasa tuiing kepedesan dan keningku langsung berpeluh, bodo amat ma tampilan yang udah gak keruan, seng penting perutku wes wareq. 

Perut udah kenyang, trus mau ngapain lagi yaa... cuaca yang cukup panas menyengat siang itu rasanya cukup membuat kami segera beranjak kedalam mobil travel yang siap membawa kami menuju kota Malang.

Sudah hampir pukul tiga sore, kami gak mau buang waktu, karena perjalanan masih cukup lama, empat jam dari Solo menuju kota Malang, ngadem di mobil sembari menikmati perjalanan rasanya sudah cukup, mata terasa semakin berat ditambah AC mobil yang dingin sukses membuat mata ini ngantuk berat, daah ah mau ngadem dulu, ntar nyambung lagi kalo sudah sampe kota Malang yaa... 




Salam



Posting Komentar

0 Komentar