Mreneyoo.com. Part terakhir setelah tiga postingan sebelumnya, mengakhiri liburan kami di kota Lombok dan berakhir juga postingan jalan-jalan di kota indah yang penuh dengan adat dan budaya serta pemandangan yang cantik, semuanya berkesan buat saya, sebelum lanjut membaca, postingan lainnya bisa kalian lihat di sini dan sini.

Hari itu sekitar jam 08.00 pagi setelah sarapan sejenak di hotel dan pagi itu pula kamu cek out dari hotel, setelah tiga malam berada di Prime park hotel, sambil mas driver menata koper kami di bagasi mobil, rombongan kecil kami segera beranjak meninggalkan hotel .

Tujuan kami selanjutnya adalah ke salah satu pulau cantik, namanya Gili Trawangan, bagi yang sudah pernah main ke Lombok tentunya sudah tau seperti apa pulau cantik ini, Gili Trawangan adalah destinasi liburan bagi wisatawan asing dan domestik, kebanyakan sih wisatawan asing, ada beberapa Gili atau pulau-pulau kecil di Lombok, Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air cukup terkenal, hanya itu yang sering saya dengar, ternyata banyak gili-gili cantik lainnya.

Kami melewati jalan yang menanjak dan berkelok, sangat indah, karena di sebelah sisi kiri terlihat di bawahnya pantai Senggigi yang sangat luas, pasti tau kan pantai Senggigi ? bagi yang udah pernah ke sini, banyak terdapat hotel dan resort yang indah di atas nya, saya yakin kayaknya hotel dan resort di sekitar pantai ini lumayan mahal, karena view-nya menghadap ke laut, tapi entahlah, tujuan kami bukan ke sini. 

Setelah sampai di pemberhentian  tempat kapal motor cepat alias speed boat, kami menunggu giliran untuk di jemput, sekitar dua puluh menit menunggu akhirnya speed boat datang, bersama dua awak kapalnya, seorang sopir dan asistennya, maksimal bisa mengangkut lima sampai enam orang beserta bawaannya.

Kami baru pertama kali naik speed boat, jadi ini pengalaman yang sangat berkesan sekaligus bikin dag dig dug. Gimana enggak, namanya aja speed boat ya udah pasti ngebut, jadi badan kami berasa melayang dan kembali jatuh..breg..breg..breg, saya berdua kakak hanya komat kamit berdoa mohon keselamatan, gimana enggak ngebut, jarak tempuhnya jadi terpangkas hanya sekitar dua puluh menit saja, tapi berasa lamaaa banget, 😁alhamdullilah selamat 🤲..akhirnya sampailah kami di Gili Trawangan.. hehehe.

Langsung menuruni speed boat menuju hamparan pasir pantai yang putih bersih, beda dengan warna pasir di Pink Beach, oiya tempat penginapan kami adalah hotel Vila Ombak , bagian dalam lobi hotel masih bercirikan khas bangunan rumah adat Lombok, terbuat dari tiang kayu kokoh dan atapnya unik yang berupa susunan balok kayu dan ukiran yang terlihat menarik.



Lobi hotel



Hotel Vila Ombak

Kamar-kamar nya masuk ke dalam halaman yang lumayan luas dan mencar-mencar, ada sebagian kamar dari bangunan tembok ada juga kamar yang mirip-mirip panggung atau rumah adat gitu, agak tinggi terbuat dari kayu, jadi unik dan menarik, kalo jalan kaki juga lumayan jauh, sekitar sepuluh menit menuju kamar kami karena sangking luasnya halaman hotel, banyak pengunjung hotel yang naik sepeda kalau keluar masuk hotelnya.

Setelah cek in hotel, mas Ginang membawa kami makan siang ke salah satu tempat di pinggiran pantai, rupanya sudah booking dulu, jadi enggak kelewat lama nunggu, banyak wisatawan berkeliling naik sepeda di sini, rupanya sepeda adalah transportasi yang cukup murah untuk di sewa para wisatawan, kalau jalan kaki lumayan jauh, cukup membayar sekitar 50-70 ribu rupiah kalau tak salah/ hari nya, selain sepeda ada juga gerobak kuda yang di tarik pak kusir, namanya Cidomo, tarifnya sekitar 100 ribu rupiah sekali jalan.




Sore itu dua ponakan saya nyewa sepeda, katanya mau keliling, iya juga sih kalau jalan kaki lumayan jauh, yang emak-emak cukup ngadem dulu di dalam hotel sambil nunggu sorean dikit, akhirnya ketiduran juga 😴.


Kakak & adek

Sore hari sehabis tiduran di kamar, kami bertiga rencananya mau jalan-jalan sore menyusuri jalan setapak yang ada di depan hotel, di sini suasana cukup ramai, banyak turis hilir mudik, ada yang jalan kaki ada yang naik sepeda, ada yang naik Cidomo.

Di sepanjang jalan berjejer kafe dan penjual pakaian dan pernak-pernik aksesoris yang di jajakan, banyak outlet unik dan menarik di sepanjang jalan ini.

Ada beberapa kafe yang menampilkan live music, beberapa turis duduk sembari makan sajian yang mereka pesan. 

Beberapa karyawan kafe menawarkan menu pada pejalan kaki, oiya namanya saja daerah wisata yang kebanyakan pengunjungnya turis luar, harga makanan di kafe-kafe sini lumayan mahal.

Sore itu kami bertiga naik Cidomo dengan membayar Rp 100 ribu rupiah untuk sekali jalan, dua ponakan ngintil alias ngikutin di belakang kami pakai sepeda. Tujuan kami sore itu adalah ke salah satu kafe bernuansa pink cantik, namanya Pink Coco Gili Trawangan, pas keluar dari hotel eeh ketemu si El Rumi dan Bastian Still nya Cowboys junior, mereka ramah dan menjawab sapa, sore ibuu...😁.





Semua bernuansa pink 💕








Semua karyawan rata-rata memakai pakaian warna pink, susunan bean bags berwarna pink cerah mendominasi pantai sore itu, unik juga jadinya, sampai ke minuman kelapa mudanya juga warna pink.. hehehe.

Sembari menunggu sunset, beberapa pengunjung terlihat mulai berdatangan, kebanyakan turis luar, lihat saja Bean bags nya penuh semua, sore itu ada live music dan persiapan beberapa jenis atraksi yang di lakukan oleh dua putra daerah, berupa permainan bola api dengan menggunakan alat yang di putar-putar, pertunjukan sangat unik, agak ngeri-ngeri sedap kalau salah sedikit saja bola api akan membakar pakaian mereka, gerakannya sangat energik di sesuaikan dengan musiknya yang bernuansa daerah dan modern, pakaian yang di kenakan mereka juga menggunakan pakaian adat khas Lombok untuk prianya, macam kain yang di lilitkan di atas kepala dan kain khas Lombok untuk bawahannya dan gerakan sangat energik, sedang untuk wanitanya agak sedikit seksi di bagian atas tetapi menggunakan kain khas untuk bawahannya, untuk pertunjukannya kebetulan saya simpan di postingan sorotan Instagram saya, maklum agak gede ukuran filenya wkwkkk.

Sore itu acara sukses berlangsung hingga malam hari, beberapa turis asing ikutan berjoget mengikuti alunan musik, penari wanitanya mengajak mereka untuk ikutan menari, bahkan seorang anak kecil bule ikutan bergerak-gerak sembari memperhatikan gerakan penari wanitanya, hehehe lucu liatnya.






Waktu sudah mulai agak gelap, tapi perut masih belum terasa lapar, malam itu kami menyusuri sepanjang jalan di Gili Trawangan, suasana malam terasa begitu hidup dan ramai, banyak pejalan kaki dan pesepeda hilir mudik, memenuhi kafe-kafe yang ada di sepanjang tepi pantai, suara musik dan penyanyi terdengar sayup -sayup di kejauhan, kehidupan malam di sini sangatlah meriah, maklum saja sebagian besar adalah pengunjung dari luar, selain itu banyak para pekerja yang ikut merasakan  dampak dari di bukanya pariwisata di sini, beberapa pedagang pernak-pernik, pengusaha makanan, hiburan dan penjual pakaian, hotel atau penginapan, selain menambah pemasukan bagi daerah itu sendiri tentunya.

Gili Trawangan sangat berkesan buat saya, meskipun baru sekali datang, rasanya tak sabar untuk berkunjung lagi ke pulau cantik yang satu ini, selain tentu saja tempat-tempat cantik lainnya di kota Lombok, keindahan alamnya dan adat budayanya yang masih terjaga.

Esok harinya pukul 09.00 speed boat menjemput kami kembali, dan mas Ginang sang driver sudah menunggu kami, perjalanan di Gili Trawangan berakhir sudah, mas Ginang mengantarkan kami ke pusat oleh-oleh, ada beberapa oleh-oleh yang kami beli berupa kopi khas Lombok, tidak lupa terasi khas Lombok yang sudah siap saji, kaos-kaos, peci, pernak-pernik dan makanan ringan lainnya, rasanya bawaan kami lumayan banyak.

Pukul 11.00 kendaraan membawa kami menuju bandara internasional Lombok, hari itu 26 Desember 2023 sekitar pukul tiga sore pesawat Garuda membawa para penumpang menuju bandara Internasional Soekarno Hatta, selamat tinggal Lombok, Matur Tampiasih 🙏.







Salam